Si Geutek : Dongeng Masa Kecil Dulu

in fiction •  7 years ago 


source

Si Geutek : Dongeng Masa Kecil Dulu

Syahdan, di sebuah desa yang pengap, senyap dan sunyi terletak di kemukiman Antara. Tinggal satu keluarga yang papa, tak berdaya, bekerja sebagai pencari kayu bakar. Seorang lelaki tegap yang sudah beristri mendiami sisi gunung Antara. Menghuni sebuah gubuk kecil, berdinding rumbia, atapnya ditutupi dedauan. Pang Shaleh adalah lelaki tegap itu. Istrinya Siti Hawa adalah seorang perempuan yang hampir putus asa. Saban hari mereka menerobos semak-semak belukar untuk mencari kayu bakar dan kemudian dijualnya ke pasar Empung tak jauh dari kediamannya.

Siti Hawa, perempuan paruh baya yang sudah lebih lima tahun hidup bersama suaminya Mad Soleh. Dari sisi luar, keluarga itu tampak biasa saja. Tak terjadi apa-apa bahkan tak ada yang tahu kalau mereka belum memiliki buah hati. Mereka sangat tertutup, bahkan jarang bergaul dengan masyarakat sekitar yang berjumlah tak lebih dari 20 KK. Namun, betatapun mereka jarang bergaul, penduduk desa Hanyi tak begitu menaruh hati. Pang Shaleh tetap diterima. Sikap pendiamnyalah yang membuat kerabat di desa itu mengaguminya. Tak pernah dia bergunjing tentang orang lain, seolah hidupnya hanya untuk dirinya dan Tuhan.

“Sudah lima tahun, Siti!” kata Pang Shaleh

Di atas tempat tidur bambu. Pang Shaleh berkeluh kesah tentang ketidakmampuan istrinya memiliki anak. Siti Hawa ikut resah manakala mendengar kata-kata itu sering keluar dari mulut suaminya. Ma Blien telah memastikan mereka tidak akan memiliki anak. Putus asa hinggap. Membuat Pang Shaleh membenci istrinya. Siti Hawa seorang perempuan alim memilih jalan lain. Dia kerap bangun di tengah malam. Menangis, berkeluh tentang ketidakadilan. Mukanya yang kusut, basah seketika manakala ia teringat kata-kata Ma Blien. Benarkah Tuhan? tanyanya.

Tuhan masih diam. Siti Hawa tidak menyerah. Suaminya dibiarkan tidur sendiri. Dia lebih memilih sepetak tempat buat beribadah.

“Kau yang mandul, Hawa!” teriak suaminya dari tempat tidur.

Siti hawa memilih diam. Mulutnya komat-kamit berzikir. Dia terus berdoa hingga tertidur. Juga Tuhan masih diam. Kini usia perkawinan mereka beranjak setahun. Enam tahun adalah waktu yang cukup lama. Pang Shaleh masih juga menyalahkan istrinya dengan melontarkan kata-kata hina. Tiba-tiba saja Shaleh mendekati Siti Hawa. Di atas ranjang itu mereka berusaha. Tuhan tersenyum.

Sebulan kemudian. Siti Hawa mengeluh sakit di perut. Tangannya meremas-remas hingga sesekali terduduk. Keringatnya mengucur, mulutnya menangkup menahan rasa sakit. Pang Shaleh mengira itu hanya akal-akalan saja. Dia beranjak ke hutan mencari kayu bakar selanjutnya dijual ke pasar Empung. Setelah berusaha keras. Sakit perutnya sembuh. Naluri Siti Hawa begitu beda. Dia menyuruh suaminya untuk mencari biji-biji kecil di hutan. Pang Shaleh menuruti. Mencari ke mana saja dan akhirnya menemukan biji saga dan biji-biji sawi. Lantas, menyerahkan biji-biji itu ke istrinya. Semua biji itu dengan mudah masuk ke mulut Siti Hawa.

Pang Shaleh terkejut bukan main. Apa yang sedang ia lihat seakan seperti mimpi. Tidak pernah ia melihat Siti Hawa bertingkah seperti ini. Tiga bulan, perut Siti Hawa membesar. Shaleh senang bukan main. Sebelum pergi ke hutan, dia mengelus perut istrinya.

“Ranting kecil jangan lupa ya,” kata Siti Hawa mengingatkan.

Pang Shaleh mengangguk dan menghilang. Ranting-ranting kecil pun ia lahap seperti nasi. Tak merasa sakit sedikitpun, ranting-ranting itu meluncur mulus di kerongkongannya. Pang Shaleh tersenyum. Sejak Siti Hawa mengandung. Pang Shaleh menjadi lelaki penurut. Dia teringat kata-kata orang tua dulu. Bila tidak menuruti apa yang diperintahkan oleh istri yang sedang mengandung maka akan terjadi malapetaka buat si bayi nantinya. Mengetahui hal tersebut. Pang Shaleh kerap membawa pulang biji kecil ke rumah buat menu makan siang istrinya. Makin hari perut Siti Hawa makin besar sehingga membuat tubuhnya tidak berdaya. Namun mulutnya seakan ingin makan sesuatu yang aneh. Lalu, dengan nada megap-megap dia menyuruh Pang Shaleh untuk mencari biji yang lebih kecil lagi. Pang Shaleh pun menuruti. Dia mencari ke mana saja. Namun biji terkecil tidak ia temukan.

Siti Hawa berang. Pang Shaleh pergi lagi ke hutan di tengah hari. Namun tidak ia temukan. Beberapa jam kemudian. Perut Siti Hawa seakan meledak. Darah keluar membasahi seprei. Tangannya mencengkram kisi-kisi ranjang bambu. Pang Shaleh berkeringat. Tidak tahu cara meredakannya. Setelah lelah berjuang, perut Siti Hawa mengempes. Tangis menggelegar. Namun arah tangisan itu tidak tahu datang dari mana. Pang Shaleh mencari-cari. Menyingkap sarung istrinya. Ternyata bayi itu sedang menggantung. Dia menyodorkan tangan lalu ia angkat bayi itu. Di saat Siti Hawa melihat anaknya. Dia pingsan. Bayi itu diam di kala diletakkan di atas telapak tangan ayahnya. Lalu, Pang Saleh membalut bayi itu dengan sapu tangan lusuh. Keesokan hari. Siti Hawa siuman. Dia memanggil suaminya dan seakan tak percaya apa yang ia lihat semalam. Setelah meminta, Pang Shaleh meletakkan bayi itu di dekat Siti Hawa. Berderailah airmatanya manakala melihat tubuh anaknya itu sebesar kelingking.

“Saya sudah namakan dia Geutek.”

Siti tidak peduli dengan nama itu. Dia masih menangis tak terima apa yang baru saja diberika Tuhan.

“Dia anak kita. Terima saja keadaannya. Tuhan pasti tahu apa yang Dia berikan kepada hambanya,” kata Pang Shaleh lembut.

Sejak kelahiran si Geutek. Kehidupan rumah tangganya makmur. Mereka mendapatkan kayu bakar cukup banyak sehingga hidupnya berubah. Seiring waktu berjalan. Umur si Geutek kian bertambah hingga beranjak 20 puluh tahun. Akan tetapi, tubuhnya masih seperti waktu lahir; sebesar kelingking. Si Geutek sering pergi ke pasar bersama ibunya dengan cara ia ditaruh di dalam kantung jinjing. Kantung itu sudah dilobangi agar si Geutek bisa bernafas.

Suatu hari. Ia dan ibunya pergi ke Pasar Empung buat membeli ikan. Ia melihat-lihat lewat celah-celah kantung kain. Orang-orang bertubuh raksasa seperti tubuh orang tuanya berkeliaran di pasar itu. Ia tersenyum seraya melompat-lompat di dalam kantung hingga lubang kantung membesar. Di saat ia lompat, tubuh kecilnya terperosok dan jatuh ke tanah.

Ibunya tidak merasa, karena berat si Geutek hanya beberapa ons saja. Si Geutek terjatuh di antara orang-orang bertubuh raksasa. Dia berlari mengejar ibunya tapi terhalang. Kaki-kaki besar kerap membuatnya terhoyong-hoyong hingga dia tidak bisa menemukan ibunya. Lantas, ia berlindung di sudut kedai agar tidak terinjak dan menangis sejadi-jadinya. Orang-orang di pasar terkejut mendengar tangisan itu. Namun mereka tidak tahu siapa yang menangis dan memilih tidak peduli. Masih di bawah sudut kedai tua itu. Ia melihat orang-orang berlarian tanpa arah. Dia melihat lewat celah papan dan tersorot tajam ke arah seekor binatang sedang berlari sambil menghancurkan kedai-kedai bambu. Gajah itu sangat besar, gumamnya. Binatang raksasa itu menyepak apa saja yang menghalangi jalannya. Bahkan orang-orang yang sedang berlari turut kena terjangan binatang berkuping besar itu. Tepat di depannya, Binatang Raksasa itu berhenti. Orang-orang bersembunyi di balik pohon-pohon besar. Gajah itu berpaling. Si Geutek memberanikan diri untuk membunuh gajah itu. Karena telah merusak kedai ayahnya, mungkin juga telah menyepak ibunya. Dia naik perlahan-lahan melewati kaki gajah yang dibalut bulu. Tangan kecilnya mencengkram kulit. Nafasnya tersengal-sengal di saat sampai di tepi telinga binatang itu. Gajah masih berhenti, matanya melihat orang-orang yang sedang mengamatinya. Sedangkan si Geutek masuk ke cuping telinga gajah. Jari-jarinya mencolek-colek bagian dalam. Lalu menendang-nendang daging di dalam telinga. Setelah beberapa saat gajah itu terjatuh pingsan.

Kala tubuh besar binatang itu menghantam tanah. Geutek memegang erat-erat agar tidak tertimpa. Dia mengantung-menggantung di bawah telinga besar gajah. Binatang itu terkulai. Si Geutek turun dan menghindar dari orang-orang yang mulai berani mendekat. Mereka ingin tahu kenapa gajah itu pingsan.Di antara orang-orang itu terdapat ayahnya. Dia mencari-cari penyebab. Tangan Pang Shaleh menelisik di ruang bawah tubuh gajah, tangannya menyentuh si Geutek. Orang-orang melihat ternyata di telapak tangan Pang Shaleh terdapat seorang manusia sangat kecil.

“Kamu yang melakukannya?” tanya ayahnya.

Si Geutek mengangguk sambil memainkan bola matanya ke arah orang-orang bertubuh raksasa kini sedang menatapnya. Lalu orang-orang itu mendekat. Memuji si Geutek dan mengakui keberaniannya. Akhirnya si Geutek menjadi pahlawan, penduduk Pasar Empung belum puas sebelum memberi pujian atas keberanian si Geutek. Akhirnya dia mendapatkan perlakuan khusus di kampungnya.

U5dtbQKKmfKuqu7QB1uxntFotPFr9Dq_1680x8400.jpg

Authors get paid when people like you upvote their post.
If you enjoyed what you read here, create your account today and start earning FREE STEEM!
Sort Order:  

that panyang dongeng, lam pah beujeut keu MP3 mangat tadeungo sira taeh lage tadeungo hikayat jameun, ahahahaha, saleum pak @abduhawab

hehe...nyan payah tamita ureung nyang pah gecerita. Saleum sukses

Cerita sangat inpiratif zangat apik.
Bahwa tubuh kecil bukan kelemahan tapi justru menjadi kekuatan yang dahsyat dan ampuh.
Keberanian dan perjuangannya dapat merubah hidupnya.
Dan pahlawan-pahlawan bangsa kita justru fisik dan tubuhnya tidak besar tapi kecil.
Tapi keberaniannya membela tanah air dari penjajah adalah kekuatannyang luar biasa.
Mantap ceritanya

cerita awai memang perle takembangkan keulayie karena aneukmit jinoe leuthat hana soe peugah lee cerita nyan mungkin @abduhawab jeut keu salah sidroe guru cerita zaman dulu, salam dari kamoe yang di samalanga

ya, lhoe cerita jameun nyang kagadoh. hehe...perle sama2 takembangkan loem. terima kasih

Bireh cerita, nyan can meutamah aju pakar cerita zaman now..sukses Tgk @abduhawab..cukeh akun LOEN sigoe2. Terima kasih

hehe...payah tameuruno lom tgk. thanks

Nyan menandakan mantong tingat keu cerita nek, wate ubit ubit. Bek tuwo neu saweu2 kamo di samalanga beh @yusfriadi

ya, brat teugat teuh cerita nyan. Jeut, InsyaAllah tgk

Luar biasa bang @abduhawab, walaupun hanya sekedar cerita fiksi namun memberikan banyak inspirasi... Bagaimana pun jangan pernah menyerah terhadap sebuah hal dan selalu berusaha dan bersyukur terhadap apapun.

Berehh... cerita jameun bang @abduhawab

Terkadang dunia ini bisa berbalik, hal yang kita anggap tidak logis bisa saja terjadi kapanpun dan dimanapun.

betul sekali, hal kecil bisa menentukan ketercapaian sebuah misi besar. terima kasih

mantap bang, cerita yang sarat nasehat didalam, alt+f5, terima kasih, happy adventure, selamat melajang hehee

hehe...terima kasih bang.

Mahluk kecil jg bisa membunuh mahluk besar
Mantap cerita fiksinya bg @abduhawab, tlg ajarin la bg...

hehe....aduh gmn ya, saya pun lagi belajar. Yok, mari belajar bersama. thank you

  ·  7 years ago (edited)

Ada beberapa pesan moral yang dapat kita ambil dari cerita ini, pertama, jangan sekali-kali kita melupakan jasa orang tua, perjuangan mereka begitu berat dalam merawat kita dari dalam kandungan hingga kita dewasa, kemudian dari kisah anaknya ini, saya ambil pelajaran berharga, bahwa kita jangan pernah minder, atau mengeluh dengan apa yang Tuhan ciptakan dengan fisik kita, karena dibalik kekurangan pasti tersimpan kelebihan.

Cerita yang sangat menginspirasi sekali bng @abduhawab. keren

terima kasih @midiagam

Sama-sama bg @abduhawab

Selamat siang pak @abduhawab siang ini khadiran saya jadi pelengkap yang ke 20,,saya tidak berkomentar banyak lagi, tapi saya hadir di saat siang ini, hnya mengantar sebait doa, semoga bapak dan kluarga selalu dlm rahmat Allah yang tidak putus - putus, dan tak bosan2 dalam memotivasi dan menginspirasi kami

terima kasih atas doanya, aris.

Sangat terkesan dengan cerita seperti ini..
Banyak pesan positif yang bisa diambil dari cerita ini.
Salutttt.. bereh.. hehehe

terima kasih @jamal.jeje

Cukop bereh cerita. Dengan mau menulis kisah2 seperti ini, akan menjadi warisan yang berharga buat anak cucu.

ya, skrang banyak dongeng lokal yg hilang. terima kasih bang

Cerita yang sangat menarik bang @abduhawab

People who liked this post also liked:

Life is adventure by @moeslimyusuf

We are Discover Steem, if you like our recommendations consider giving us an upvote. :) If you don't wish to receive recommendations under your posts, reply with STOP.

The story was a few years ago, but it is needed to know. Thank @abduhawab.

the old tale, thank you