riuh ombak, berisik tak henti berteriak di bibir pantai.
merayakan pertemuan, walau tidak pernah saling tertawa.
menghiasi peraduan—lalu lupa, bahwa kita hanya fatamorgana.
menyuarakan "kenapa yang ada hanya aku—bukan lagi kita."
di isyaratkan mentari kepada malam, perihal pulang yang tidak pernah kembali, saling berpaling hingga sampai pada titik hening dan tenang.
jiwa yang rekat, telah hirap bersama harap.
letih bayang bersama cahaya, mencoba menggapai daksamu.
namun genggam mu terlepas, bahu ku tak lagi tersandar.
aku terjatuh pada dasar sepi, tak sanggup ku gapai permukaan,
lautan kepergian telah menenggelamkan.