Tuan Presiden Rex

in poetry •  7 years ago 

hasbi burman.jpg

“Selamat Sore Tuan Presiden,
Semoga anda sehat dan tak kurang suatu apapun.
Apakah anda sudah ngopi hari ini?
Kata teman saya, anda baru pulang pesiar
Mengarungi lika-liku hidup yang serba berwarna
Semua anda jelajah, hingga kepinggir kalbu sekalipun
Anda benar-benar pencatat sejarah Aceh, tuan
bisakah kami belajar menjadi pencatat sejarah
seperti anda?
Atau barangkali ada cara lain, agar anda mau berbagi
Pada kami yang masih merangkak ini”

Tuan Presiden hanya tersenyum
Matanya bulat menyayat suasana sore itu
Dia hanya menjawab dengan sebaris syair lama
Dendang melayu milik P Ramli

Kami hanya tertegun.

Hasbi Burman berjuluk Presiden Rex. Adalah penyair Aceh kelahiran Lhok Buya, Calang Aceh Barat 1944 merupakan sosok yang terus berkarya dalam dunia kepenyairan Aceh hingga saat ini. Puisi-puisinya banyak di terbitkan di berbagai media masa di berbagai wilayah di Indonesia, dia juga memiliki beberapa buku antologi puisi sendiri dan puluhan antologi puisi bersama.

Hasbi demikian nama panggilan kecilnya, merupakan penyair yang mengingat semua puisi-puisinya meski sudah cukup lama dibuatnya. Terbukti ketika para penyair muda sedang mengumpulkan puisi-puisi Hasbi Burman, sang penyair mampu mengingat dan menulis kembali puisinya meski telah 20 tahun berlalu.

Menjadi penyair baginya adalah bagian hidup bahkan jiwa dan raganya telah menjelma puisi, “akulah puisi itu” sebutnya beberapa kali di daulat membaca sepotong syair karyanya. Meski tak lagi muda Hasbi menjadi guru dan teman yang asyik bagi para penyair muda Aceh. Banyak ilmu yang bisa ditimba darinya, tidak hanya pengalaman hidup, hubungan antar individu, komunikasi, berkarya membuat puisi serta kata-kata bijak yang kerap terlontar dari bibirnya.

Hasbi Burman adalah puisi itu, Pada setiap karyanya ada kenangan yang tidak dapat dilupakannya, puisi itu merupakan riwayat hidup sang penyair “terenyuh” ini. Mengenal Hasbi Burman seperti mengenal musim bunga yang sedang memekarkan kelopak-kelopaknya. Maka berbahagialah para penyair Aceh yang bisa berkomunikasi dan langsung bertatap muka dengannya, karena segudang ilmu itu menyebar wangi seperti minyak kasturi dari ucapannya.

di penghujung malam, sang presiden berpamitan;
“Maafkan, saya harus lanjutkan perjalanan
Karena matahari menunggu di peraduannya
Selamat malam”

Hasbi Burman sang presiden rex berlalu
Meninggalkan ngiangan rasa, menitip
ribuan hasrat untuk berkarya
“Selamat malam tuan presiden
Jaga kesehatanmu
Sebab malam ini tak mampu kami habiskan
Tanpa menulis lecutan rasa di baris-baris puisi jiwa.”

Penulis: Rahmad Sanjaya

Authors get paid when people like you upvote their post.
If you enjoyed what you read here, create your account today and start earning FREE STEEM!
Sort Order:  

Apa kabar @rahmadsanjaya? Telah kami upvote yah..

tq ya