Merintih penuh pilu berbalut luka.
Seperti hujan yang terabaikan.
Malam berganti, pagi datang dan hilang.
Kau masih saja hilang tak menentu.
Kembali, seperti menangis dalam pelukan.
Meneteskan Asinnya Air mata bercampur darah.
Ini adalah sebuah cerita tentang hujan yang terabaikan oleh waktu.
Kesah hanya naugan diantara gemuruh ombak senja.
Diamku menyatu dalam kalbu berjiwa rapuh.
Bersikap tenang lalu pergi menanti senja.
Kadang kala hingga jatuh beralaskan jenuh.
Menatap langit bergambarkan api yang menyulut nadi.
Pagi, Aku adalah hujan yang terabaikan.
.
Maksal Mina
08 April 2018
@maksalmina7