Pagi itu, hujan turun dengan rintik halus, membasahi jalanan kota yang masih lengang. Aku berdiri di bawah jembatan layang, menikmati aroma tanah basah dan hiruk-pikuk kendaraan yang mulai merayap pelan. Di tanganku, segelas kopi hangat mengepul, mengusir dingin yang menusuk kulit.
Di seberang jalan, seorang pria tua duduk di bangku kecil, menjajakan payung dan jas hujan dengan wajah penuh harap. Aku memperhatikannya, mengenang hari-hari ketika hidup juga mengajarkanku bertahan di tengah hujan tantangan.
Aku mengangkat kameraku, membingkai pemandangan kota yang basah, lampu-lampu kendaraan yang memantul di aspal, dan bayangan lelaki tua itu. Klik. Sebuah momen terabadikan.
Tiba-tiba, seorang anak kecil berlari mendekati si pria tua, meraih tangannya, lalu tersenyum lebar sambil menunjukkan sekantong roti. Lelaki itu mengusap kepala si bocah, lalu berbagi roti dengan penuh kasih.
Aku tersenyum, menyesap kopiku yang mulai mendingin. Hujan, kota, dan secangkir kopi—semuanya terasa lebih hangat dengan pemandangan sederhana namun bermakna itu.